35 Breathtaking Night Photography Of World Famous Places

Usually everybody visit on these place in morning time and some time in evening but due to lot of work and shortage of timing we cant look at these places today we are giving you a chance to look these places in front of your screen i hope every body will enjoy it and will love the beauty of these places.

Mecca

Dubai, United Arab Emirates

Moscow

San Francisco

New york

Echternach, Luxembourg

St-Petersburg

Paris – Eiffel Tower

Consuegra. Spain

Norway

Shibuya, japan

Dubai

Recklinghausen, Germany

Ayalon Highways, Tel-Aviv, Israel

Assago Milano

Adana

Brooklyn, NYC

Moscow

Russia

Norfolk

Aalborg Denmark

Italy

Manhattan Bridge

Paris

Sydney – Australia

Cinque Terre, Italy

London

Basel

Graz Airport

San Diego, Ca

Hrvatska, croatia

Montreal, Quebec

Paris

Aalborg, Denmark

Valencia

Smile…:)

luv this Funny pictures..:)

u can fly…:)

sleepy baby..zzzz:)

hey..dont be serious!:)

cute:)

cute2..:)

depressed dog..

sweet..:)

miss kevin:D

w.o.w…

baby reading:)

Ooopss..:O

Nooo…:O

Ruuuunnn…!!:D

Waahhh..:D

Help…T.T

Hope u like it,frenz!:)

 

Menari di tengah Hujan

Pagi itu klinik sangat sibuk. Sekitar jam 9:30 seorang pria berusia 70-an datang untuk membuka jahitan pada luka di ibu-jarinya. Aku menyiapkan berkasnya dan memintanya menunggu, sebab semua dokter masih sibuk, mungkin dia baru dapat ditangani setidaknya 1 jam lagi.

Sewaktu menunggu, pria tua itu nampak gelisah, sebentar-sebentar melirik ke jam tangannya. Aku merasa kasihan. Jadi ketika sedang luang aku sempatkan untuk memeriksa lukanya, dan nampaknya cukup baik dan kering, tinggal membuka jahitan dan memasang perban baru. Pekerjaan yang tidak terlalu sulit, sehingga atas persetujuan dokter, aku putuskan untuk melakukannya sendiri..

Sambil menangani lukanya, aku bertanya apakah dia punya janji lain hingga tampak terburu-buru. Lelaki tua itu menjawab tidak, dia hendak ke rumah jompo untu makan siang bersama istrinya, seperti yang dilakukannya sehari-hari. Dia menceritakan bahwa istrinya sudah dirawat di sana sejak beberapa waktu dan istrinya mengidap penyakit Alzheimer.

Lalu kutanya apakah istrinya akan marah kalau dia datang terlambat. Dia menjawab bahwa istrinya sudah tidak lagi dapat mengenalinya sejak 5 tahun terakhir. Aku sangat terkejut dan berkata, ?Dan Bapak masih pergi ke sana setiap hari walaupun istri Bapak tidak kenal lagi?? Dia tersenyum ketika tangannya menepuk tanganku sambil berkata, ?Dia memang tidak mengenali saya, tapi saya masih mengenali dia, kan?

Aku terus menahan air mata sampai kakek itu pergi, tanganku masih tetap merinding. Cinta kasih seperti itulah yang aku mau dalam hidupku?

Cinta sesungguhnya tidak bersifat fisik atau romantis. Cinta sejati adalah menerima apa adanya yang terjadi saat ini, yang sudah terjadi, yang akan terjadi, dan yang tidak akan pernah terjadi.

Bagiku pengalaman ini menyampaikan satu pesan penting: Orang yang paling berbahagia tidaklah harus memiliki segala sesuatu yang terbaik, mereka hanya berbuat yang terbaik dengan apa yang mereka miliki.

Hidup bukanlah perjuangan menghadapi badai, tapi bagaimana tetap menari di tengah hujan..

Sebuah Pelajaran

Oleh: Theresa Hunt

Hanya kami saja yang membawa anak di restoran itu….
Aku mendudukkan Erik di kursi khusus untuk anak dan mulai memperhatikan orang-orang yang dengan tenang makan sambil berbincang-bincang. Erik memekik gembira dan berteriak “Halo!”.

Dia menepuk-nepukkan tangan bayinya yang montok ke nampan di kursinya. Matanya membelalak gembira dan ia tersenyum lebar memperlihatkan mulutnya yang masih belum bergigi. Dia menggeliat-geliat dan tertawa-tawa kesenangan. Aku melihat ke sekeliling dan segera menemukan sumber kegembiraannya.

Ada seorang pria dengan jas yang compang-camping, kotor, berminyak, dan usang. Dia memakai celana baggy dengan resleting yang setengah terbuka dan jempol kakinya menyembul dari sepatunya yang sudah hampir hancur. Bajunya kotor dan rambutnya yang kotor tidak disisir. Cambangnya terlalu pendek untuk bisa disebut sebagai jenggot, dan hidungnya penuh guratan sehingga tampak seperti peta jalanan. Kami duduk cukup jauh sehingga tidak mencium baunya, tapi aku yakin dia pasti bau sekali.

Dia melambaikan dan menggoyang-goyangkan tangannya. “Halo, sayang. Halo anak pintar. Ciluk ba!”, dia berkata pada Erik.
Suamiku dan aku saling berpandangan, “Apa yang harus kami lakukan?”
Erik terus tertawa dan menjawab “Halo, Halo.”
Semua orang di restoran memandangi kami dan pria itu. Orang tua yang aneh sedang mengganggu bayi manisku. Makanan kami datang dan pria itu mulai berteriak dari seberang ruangan.
“Kamu tahu kue pastel? Kamu bisa cilukba? Hei, dia bisa ciluk ba….”

Tak ada seorangpun yang menganggap pria itu lucu. Menurutku dia pasti mabuk. Suamiku dan aku sangat malu. Kami makan dengan diam, kecuali si Erik, yang mulai menyanyikan semua lagu yang dikenalnya untuk si gembel yang mengaguminya, yang memberikan komentar yang lucu-lucu.
Akhirnya kami selesai makan dan beranjak pulang. Suamiku membayar ke kasir dan menyuruhku menunggu di tempat parkir.

Pria tua itu duduk di antara kami dan pintu keluar.

“Tuhan, biarkan aku keluar dari sini sebelum dia sempat berbicara dengan aku atau Erik.” doaku.
Saat mendekati pria itu, aku berjalan menyamping untuk menghindari baunya. Saat aku melakukan itu, Erik menyandar pada lenganku dan merentangkan kedua tangannya minta digendong. Sebelum aku sempat menghentikannya, Erik sudah meronta dari tanganku dan menuju tangan pria itu.

Tiba-tiba, pria tua yang sangat bau dan seorang bayi yang masih kecil mewujudkan rasa sayang mereka. Erik, dengan penuh kepercayaan, sayang, dan pasrah merebahkan kepalanya yang mungil ke atas pundak pria itu. Mata pria itu terpejam dan aku bisa melihat air mata menggenang di bawah bulu matanya. Tangan tuanya yang kotor dan penuh tanda-tanda kepenatan karena terlalu sering dipakai untuk bekerja keras, dengan lembut, sangat lembut menimang bayiku dan mengelus punggungnya. Belum pernah ada dua insan yang dapat menyayangi dengan begitu dalam hanya dalam waktu sesingkat itu.

Aku terpaku. Pria tua itu menggoyang dan menimang Erik di pelukannya selama beberapa saat, dan kemudian matanya terbuka dan memandangku dalam-dalam. Dia berkata dengan tegas, “Jaga bayi ini dengan baik.” Kerongkonganku bagai tersumbat batu. Entah bagaimana caranya, aku berhasil menjawab, “Baik”.

Dia menjauhkan Erik dari dadanya, dengan tak rela, dan berlama-lama, seolah merasakan nyeri yang mendalam. Aku menerima bayiku dan kemudian pria itu berkata, “Tuhan memberkati anda, Nyonya. Anda telah memberiku hadiah Natal.” Aku tidak dapat berkata apapun selain menggumamkan terima kasih. Dengan memeluk Erik, aku berlari ke mobil.

Suamiku bertanya kenapa aku menangis sambil memeluk Erik dengan eratnya, dan berkomat-kamit, “Ya Tuhan, Tuhanku, ampunilah aku.” Aku baru saja menyaksikan kasih Yesus terpancar melalui kepolosan seorang anak kecil yang tidak memandang dosa, tidak menghakimi; seorang anak yang memandang jiwa, dan seorang ibu yang hanya melihat penampilan luar saja. Aku adalah seorang Kristen yang buta, memeluk seorang anak kecil yang dapat melihat.

 

Kasih Yang Terindah

Suatu pagi yang sunyi di Korea, di suatu desa kecil, ada sebuah bangunan kayu
mungil yang atapnya ditutupi oleh seng-seng. Itu adalah rumah yatim piatu
di mana banyak anak tinggal akibat orang tua mereka meninggal dalam perang.

Tiba- tiba, kesunyian pagi itu dipecahkan oleh bunyi mortir yang jatuh di atas
rumah yatim piatu itu. Atapnya hancur oleh ledakan, dan kepingan-kepingan
seng mental ke seluruh ruangan sehingga membuat banyak anak yatim piatu terluka.
Ada seorang gadis kecil yang terluka di bagian kaki oleh kepingan seng tersebut,dan kakinya hampir putus.

Ia terbaring di atas puing-puing ketika ditemukan, P3K segera dilakukan dan seseorang
dikirim dengan segera ke rumah sakit terdekat untuk meminta pertolongan.

Ketika para dokter dan perawat tiba, mereka mulai memeriksa anak-anak yang terluka.
Ketika dokter melihat gadis kecil itu, ia menyadari bahwa pertolongan yang paling dibutuhkan
oleh gadis itu secepatnya adalah darah. Ia segera melihat arsip yatim piatu untuk
mengetahui apakah ada orang yang memiliki golongan darah yang sama.

Perawat yang bisa berbicara bahasa Korea mulai memanggil nama-nama anak yang
memiliki golongan darah yang sama dengan gadis kecil itu. Kemudian beberapa
menit kemudian, setelah terkumpul anak-anak yang memiliki golongan darah yang sama,
dokter berbicara kepada grup itu dan perawat menerjemahkan,
“Apakah ada diantara kalian yang bersedia memberikan darahnya untuk gadis kecil ini?”
Anak – anak tersebut tampak ketakutan, tetapi tidak ada yang berbicara.

Sekali lagi dokter itu memohon, “Tolong, apakah ada di antara kalian yang
bersedia memberikan darahnya untuk teman kalian, karena jika tidak ia akan meninggal!”

Akhirnya, ada seorang bocah laki-laki di belakang mengangkat tangannya dan
perawat membaringkannya di ranjang untuk mempersiapkan proses transfusi darah.

Ketika perawat mengangkat lengan bocah untuk membersihkannya, bocah itu mulai gelisah.

“Tenang saja,” kata perawat itu, “Tidak akan sakit kok.”

Lalu dokter mulai memasukan jarum, ia mulai menangis.

“Apakah sakit?” tanya dokter itu.

Tetapi bocah itu malah menangis lebih kencang. “Aku telah menyakiti bocah ini!”
kata dokter itu dalam hati dan mencoba untuk meringankan sakit bocah
itu dengan menenangkannya, tetapi tidak ada gunanya.
Setelah beberapa lama, proses transfusi telah selesai dan
dokter itu minta perawat untuk bertanyakepada bocah itu.

“Apakah sakit?”

Bocah itu menjawab, “Tidak, tidak sakit.”

“Lalu kenapa kamu menangis?”, tanya dokter itu.

“Karena aku sangat takut untuk meninggal” jawab bocah itu.

Dokter itu tercengang, “Kenapa kamu berpikir bahwa kamu akan meninggal?”

Dengan air mata di pipinya, bocah itu menjawab, “Karena aku kira untuk menyelamatkan gadis itu
aku harus menyerahkan seluruh darahku!”

Dokter itu tidak bisa berkata apa-apa, kemudian ia bertanya,
“Tetapi jika kamu berpikir bahwa kamu akan meninggal, kenapa kamu bersedia untuk memberikan darahmu?”

Sambil menangis ia berkata, “Karena ia adalah temanku, dan aku mengasihinya….!

Teman,

Tuhan Yesus lebih dahulu mengasihi kita dengan Kasih Yang paling Besar……..

John 3:16 Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.

Dia Tak Pernah Menyerah, so Kenapa harus Menyerah?

Suatu hari aku memutuskan untuk berhenti. Berhenti dari pekerjaanku, berhenti dari hubunganku dengan sesama dan berhenti dari spiritualitasku.

Aku pergi ke hutan untuk bicara dengan Tuhan untuk yang terakhir kalinya. “Tuhan”, kataku, “Berikan aku satu alasan untuk tidak berhenti?” Dia memberi jawaban yang mengejutkanku.

“Lihat ke sekelilingmu”, kataNya.

“Apakah engkau memperhatikan tanaman pakis dan bambu yang ada dihutan ini?”

“Ya”, jawabku.

Lalu Tuhan berkata, “Ketika pertama kali Aku menanam mereka, Aku menanam dan merawat benih-benih mereka dengan seksama. Aku beri mereka cahaya, Aku beri mereka air, pakis-pakis itu tumbuh dengan sangat cepat warna hijaunya yang menawan menutupi tanah namun, tidak Ada yang terjadi dari benih bambu tapi Aku tidak berhenti merawatnya.

Dalam tahun kedua, pakis-pakis itu tumbuh lebih cepat dan lebih banyak lagi. Namun, tetap tidak ada yang terjadi dari benih bambu. Tetapi Aku tidak menyerah terhadapnya. Dalam tahun ketiga tetap tidak ada yang tumbuh dari benih bambu itu, tapi Aku tetap tidak menyerah begitu juga dengan tahun ke empat. Lalu pada tahun ke lima sebuah tunas yang kecil muncul dari dalam tanah. Dibandingkan dengan pakis, tunas itu kelihatan begitu kecil dan sepertinya tidak berarti.

Namun enam bulan kemudian, bambu ini tumbuh dengan mencapai ketinggian lebih dari 100 kaki. Dia membutuhkan waktu lima tahun untuk menumbuhkan akar-akarnya. Akar-akar itu membuat dia kuat dan memberikan apa yang dia butuhkan untuk bertahan. Aku tidak akan memberikan ciptaanku tantangan yang tidak bisa mereka tangani.”

“Tahukan engkau anakKu, dari semua waktu pergumulanmu, sebenarnya engkau sedang menumbuhkan akar-akarmu? Aku tidak menyerah terhadap bambu itu, Aku juga tidak akan pernah menyerah terhadapmu.”

Tuhan berkata “Jangan bandingkan dirimu dengan orang lain. Bambu-bambu itu memiliki tujuan yang berbeda dibandingkan dengan pakis tapi keduanya tetap membuat hutan ini menjadi lebih indah.”

“Saat mu akan tiba”, Tuhan mengatakan itu kepadaku.
“Engkau akan tumbuh sangat tinggi”

“Seberapa tinggi aku harus bertumbuh Tuhan?” tanyaku.
“Sampai seberapa tinggi bambu-bambu itu dapat tumbuh?”
Tuhan balik bertanya.
“Setinggi yang mereka mampu?” aku bertanya
“Ya.” jawabNya, “Muliakan Aku dengan pertumbuhanmu, setinggi yang engkau dapat capai.”

Lalu aku pergi meninggalkan hutan itu, menyadari bahwa Allah tidak akan pernah menyerah terhadapku dan Dia juga tidak akan pernah menyerah terhadapmu.

Jangan pernah menyesali hidup yang saat ini anda jalani sekalipun itu hanya untuk satu hari.
Hari-hari yang baik memberikan kebahagiaan; hari-hari yang kurang baik memberi pengalaman; kedua-duanya memberi arti bagi kehidupan ini….